MEDIAJURNAL » Sosial » Seorang Ibu Digugat 1 Miliar oleh Anak Kandung dan Menantunya Sendiri

Seorang Ibu Digugat 1 Miliar oleh Anak Kandung dan Menantunya Sendiri

Written by on |
Fatimah ibu digugat Rp 1 M oleh anak kandung

Fatimah / sindonews.net

Anda tentu masih ingat dengan cerita rakyat atau legenda malin kundang, seorang anak yang begitu kejam mendurhakai ibunya hingga akhirnya dikutuk jadi batu, kisah malin kundang seyogianya dijadikan pelajaran bagi kita semua untuk tidak berlaku durhaka kepada orang tua.

Pelajaran moral yang terkandung dalam kisah Malin Kundang rupanya tidak tertanam dalam diri Nurhana, seorang perempuan asal Kota Tangerang yang tega menggugat Fatimah (90), ibu kandungnya, secara perdata sebesar Rp 1 miliar ke Pengadilan Negeri Tangerang atas tudingan penggelapan sertifikat tanah.

Bersama dengan suaminya Nurhakim, Nurhana menuntut ibu kandungnya sendiri untuk membayar ganti rugi penggelapan sertifikat tanah sebesar Rp 1 miliar, tak hanya itu saja anak ke-empat ibu Fatimah itu juga menggugat ibunya untuk pergi dari rumah yang dia tempati karena rumah tersebut masuk dalam area tanah yang disengketakan.

Advertisements

Amas (37), anak bungsu Fatimah atau adik dari Nurhana mengungkapkan, kakak dan ibunya berseteru terkait tanah seluas 397 meter persegi yang berlokasi di Jalan KH Hasyim Asari, RT 02/01 No. 11, Kelurahan Kenanga, Kecamatan Cipondoh, Kota Tangerang.

Seperti diberitakan merdeka.com, Rabu (24/9/2014), Tanah itu awalnya dibeli oleh Alm. H Abdurahman yang merupakan suami dari Fatimah senilai Rp 10 juta dari Nurhakim suami dari Nurhana, dalam proses jual beli itu Nurhakim enggan melakukan balik nama sertiifikat tanah ke Alm. H Abdurahman.

“Pembayaran tanah itu disaksikan juga oleh kakak-kakak saya. Sertifikat tanahnya sudah dikasih oleh Nurhakim ke bapak. Tapi masih atas nama Nurhakim,” ungkap Amas, di Pengadilan Negeri (PN) Tangerang, Selasa (23/9/2014)

Saat transaksi jual beli tanah dengan Alm. H Abdurahman, Nurhakim sempat membuat surat pernyataan siap balik nama sertifikat, namun tidak dia tepati, Nurhakim berkilah karena masih hubungan keluarga anak dan menantu maka bisa saling percaya tanpa harus balik nama sertifikat.

“Dia enggak mau, dengan alasan masih keluarga, masa sama menantu tidak percaya. Atas dasar kepercayaan itu, ibu ngikutin saja. Padahal dia sudah pernah buat surat pernyataan siap balik nama sertifikat, kan aneh,” jelas Amas.

Pihak Fatimah sebenarnya sudah merasa was-was akan apa yang terjadi dikemudian hari bila sertifikat tanah yang dibeli suaminya tak kunjung balik nama juga, hal yang dikhawatirkan pun terjadi setelah Abdurahman meninggal. Nurhakim tiba-tiba menggugat tanah tersebut dengan mengaku tidak pernah dibayar oleh bapak mertuanya.

Awalnya Nurhakim bersama Nurhana meminta Ibunya untuk membayar ganti rugi tanah sebesar Rp 10 juta, lalu naik menjadi Rp 50 juta, Rp 100 juta hingga Rp 1 miliar. Fatimah mengaku tak bisa menuruti permintaan anaknya tersebut karena tidak punya uang sebanyak itu itu, kalaupun punya Fatimah mengatakan akan pergi dari rumah yang dia tempati.

“Tiap datang ribut tanah, tiap datang ribut tanah, saya sudah usir dia, supaya jangan balik-balik lagi, Duit dari mana bayar Rp 1 miliar. Kalau punya duit segitu, mending pergi dari situ,” ujar Fatimah.

Fatimah mengaku hatinya hancur atas perlakuan anak kandungnya dan menantunya, tak hanya menggugat Rp 1 miliar, anak dan menantunya itu menurut Fatimah juga sering menghina dirinya yang hidup susah, Fatimah saat ini sudah tidak menganggap Nurhana sebagai anaknya.

“Sakit banget hati saya, hancur banget. Saya sudah dikata-katain susah, sekarang dia tega menggugat saya Rp 1 miliar, gara-gara tanah. Udah lah, saya udah enggak nganggep dia anak,” pungkasnya.

Related Posts.

Leave a Reply