MEDIAJURNAL » Kriminal » Putrinya Diperkosa Dua Kali, Ayah Rakit Bom Untuk Bunuh Pemerkosa

Putrinya Diperkosa Dua Kali, Ayah Rakit Bom Untuk Bunuh Pemerkosa

Written by on |
Bom Rakitan Buatan Eko Suprapto

Bom Rakitan Buatan Eko Suprapto / Viva.co.id

Apa yang dilakukan seorang ayah bernama Eko Suprapto, warga Perum Griya Timur Indah, Jati Mulya, Tambun Selatan, ini mungkin dianggap jahat oleh polisi. Namun bagi para wanita, khususnya remaja putri yang dekat dengan ayahnya, aksi Eko ini pastilah disebut aksi kepahlawanan.

Eko Suprapto merakit sebuah bom untuk membunuh seorang pria bernama Cece, pria yang telah memperkosa putrinya sebanyak dua kali. “Dia merakit bom tujuannya membalas sakit hatinya,” kata Irjen Pol Ungung Cahyono, Kapolda Metro Jaya mengatakan, di Polrestro Bekasi Kota, Kamis (26/2/2015).

Berbekal kemampuan merakit bom yang dia peroleh saat bekerja sebagai pembuat bom ikan, Eko setiap malam menyempatkan merakit bom yang akan dia pakai untuk mengebom Cece. “Dengan kemampuan yang dimilikinya, dia merakit sendiri bom tersebut setiap malam di tempat kerjanya, dia dulu pernah bekerja membuat bom untuk menangkap ikan,” terangnya, dikutip dari Viva.co.id, Jumat (27/2/2015).

Advertisements

Eko memakai empat buah baterai besar dan satu baterai kecil sebagai daya di timer bomnya. Adapun untuk bahan isian bom, eko menggunakan black powder. Bom buatan eko kemudian dimasukkan ke dalam sebuah kotak kado.

Bom tersebut didesain Eko agar meledak saat kotak kadonya dibuka. “Switching detonator manual yang terbuat dari balon lampu, yang ada kabelnya. Bom bila dibuka, plus minusnya ketemu dan akan meledak,” jelas Unggung.

Setelah bom rakitan jadi, pada Sabtu (21/2/2015) lalu Eko bergegas untuk melancarkan aksi balas dendam atas perkosaan putrinya. Mengendarai Daihatsu Terios berwarna putih dengan nomor polisi B 1080 FKN serta ditemani wanita bernama C Via Triwi, Eko datang ke bengkel las ‘Barokah’ milik Cece di Kampung Asem, Mustika Jaya, Bantar Gebang, Bekasi.

Di depan bengkel Cece, Eko menyerahkan bom tersebut ke tukang parkir bernama Tasrif dan memintanya untuk menyerahkan kado berisi bom tersebut ke Cece dengan memberinya imbalan uang sebesar Rp 50 ribu.

Kado tersebut malah diserahkan Tasrif ke putra Cece, yaitu Anton. Anton yang mengatahui ada kejanggalan dalam kado yang dia terima kemudian melaporkan hal itu ke polisi. “Anton melihat ada rangkaian kabel, dia langsung bawa ke Pos Polisi Mustikajaya,” kata Unggung.

Bom itu akhirnya berhasil dijinakkan oleh Tim Gegana dibantu Densus 88. Sementara, Eko melarikan diri saat tahu aksi balas dendamnya gagal. Selang bebeapa hari kemudia dia menyerahkan diri ke Polrestro Bekasi. Eko dijerat pasal 6 UU Nomor 15/2003 tentang Tindak Pidana Terorisme dengan ancaman pidana mati atau penjara seumur hidup atau penjara paling lama 20 tahun dan paling singkat 4 tahun.

Kepada polisi, Eko membeberkan alasan kenapa dirinya ingin melakukan pemboman terhadap Cece. Cece sendiri juga sudah ditangkap polisi atas tuduhan pemerkosaan. “Kita akan menindaklanjuti apa yang disampaikan Eko. Cece sudah kita amankan untuk diproses sesuai dengan kasus yang didugakan kepadanya,” ujar Unggung.

Sebelum polisi membawanya ke sel tahanan Polrestro Bekasi, Eko sekali lagi menegaskan bahwa aksinya itu demi putrinya. Dia berkata bahwa demi anak gadisnya dia rela melakukan apapun.

Related Posts.

Leave a Reply