MEDIAJURNAL » Sosial » Kurang Kasih Sayang Orangtua, Siswi SD Kelas 5 Jadi Pecandu Pil Koplo

Kurang Kasih Sayang Orangtua, Siswi SD Kelas 5 Jadi Pecandu Pil Koplo

Written by on |
Pil Narkoba

Pil Narkoba / metrosiantar.com

Dunia pendidikan tanah air kembali tercorang, bagaimana tidak, seorang siswi kelas lima SD di Surabaya didapati selama ini telah mengonsumsi narkoba jenis pil koplo. Siswa tersebut berinisial YN, meski baru kelas lima SD, namun usia YN sendiri sudah menginjak 14 tahun karena sering tinggal kelas.

Badan Narkotika Nasional Kota (BNNK) Surabaya pun langsung bergerak cepat menangani kasus YN. Berdasar pengakuanya saat ditemui di sebuah rumah makan baru-baru ini, YN mengaku kenal pil koplo dari teman-teman mainnya yang kebanyakan cowok yang aktif di dunia trek-trekan atau balapan liar.

Dalam istilah kekinian, YN di antara teman-teman cowok sepermainannya biasa disebut ‘cabe-cabean’. Salah satu teman prianya itulah yang biasa membeli pil koplo di daerah Gubeng dan juga sampai ke Bangkalan, Madura, bila stok pil koplo di Gubeng habis.

Advertisements

Menurut YN, temannya membeli pil koplo dengan harga yang sangat murah, yaitu hanya Rp 10 ribu per 10 butir. Biasanya 10 butir pil koplo dipakai untuk dua orang, dengan kata lain, YN mengonsumsi pil koplo 5 butir sekali pakai.

Kasus YN ini terungkap tatkala dia meminjam ponsel pintar milik salah satu gurunya untuk Facebook-an, namun saat dia mengembalikan ponsel gurunya itu, YN lupa untuk log out dari akun FB-nya. Sang guru lalu mendapati sisa chating YN dengan temannya yang berisi obrolan tentang pil koplo hingga ML.

Sang guru kemudian melaporkan hal tersebut ke BNNK agar YN mendapat pembinaan. Suparti, Kepala BNNK Surabaya menuturkan, YN sudah menjadi anak yatim sejak kecil karena ayahnya meninggal akibat HIV/AIDS. Sementara itu, ibunya hanya usaha warung kopi di depan rumahnya sehingga YN kurang kasih sayang.

“Prosesnya biasanya seperti itu. Kurang kasih sayang, lebih dekat dengan peer group, kemudian menjadi seperti ini,” ujar Suparti, dikutip dari JPNN, Minggu, 29 Maret 2015.

Suparti mengandaikan bila YN adalah anak laki-laki maka apa yang akan dialaminya lebih memprihatinkan lagi, kemungkinan besar akan menjadi penjahat jalanan. Itu karena orang-orang yang besar di jalanan atau di lingkungan yang salah seperti YN punya kecenderungan tak ada niat untuk bekerja normal.

“Begitu agak besar sedikit dan punya nyali, mereka bisa jadi penjahat. Sebab, mereka sudah tak punya niat bekerja atau menata hidupnya. Sementara itu, mereka juga harus tetap pegang uang,” lanjutnya.

Suparti bersyukur kasus yang dialami YN ini terungkap, karena dengan begitu, setidaknya bisa memberikan gambaran pada BNNK untuk menyiapkan langkah-langkah pencegahan agar kasus serupa tidak terjadi lagi. “Kalau tidak dicegah, bukan tak mungkin tiba-tiba saja separo anak SD Surabaya pernah mengonsumsi pil koplo ini,” pungkasnya.

Related Posts.

Leave a Reply