MEDIAJURNAL » Nasional » Hasto Kristiyanto: Tulisan “Rumah Kaca Abraham Samad” Ada Benarnya

Hasto Kristiyanto: Tulisan “Rumah Kaca Abraham Samad” Ada Benarnya

Written by on |
Hasto Kristiyanto

Hasto Kristiyanto / Beritasatu.com

Sabtu, 17 Januari 2015 seseorang dengan menggunakan nama Sawito Kartowibowo membuat tulisan di Kompasiana berjudul “Rumah Kaca Abraham Samad”. Tuloisan tersebut membeberkan adanya enam kali pertemuan antara Ketua KPK Abraham Samad dengan para petinggi PDIP terkait wacana pencalonan Samad sebeagai wapres Jokowi, pada pilpres 2014 silam.

Tulisan itu pun kemudian menjadi kontroversi, banyak yang mendukung atau percaya tulisan tersebut benar adanya, namun tak sedikit juga yang menganggap tulisan itu hanya fitnah belaka. Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto menilai tulisan tersebut tidak sepenuhnya salah, ada beberapa poin yang menurutnya benar terjadi.

“Terhadap berita “Rumah Kaca Abraham Samad”, maka kami menyatakan bahwa berita sebagaimana tertulis di dalam Rumah Kaca itu sebagian besar benar adanya,” kata Hasto dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (22/1/2015).

Advertisements

Abraham Samad yang sempat memberikan bantahan terhadap tulisan Sawito Kartowibowo itu menurut Hasto sangatlah tidak tepat. Hasto meminta Samad untuk secara jantan mengakui bahwa ap ayang tertulis dalam “Rumah Kaca Abraham Samad” adalah benar. “Dengan demikian pernyataan yang disampaikan oleh Bapak Abraham Samad bahwa itu fitnah sangatlah tidak tepat,” ujarnya, dilansir JPNN, Kamis (22/1/2015).

Hasto mengatakan, pertamuan yang dilakukan Samad dengan para petinggi PDIP merupakan inisiatif dari tim suksesnya yang diketahui berinisial D1 dan D2. D1, menurut Hasto adalah orang dari kalangan swasta, sementara untuk D2, Hasto enggan mengungkapkannya.”Timnya aktif komunikasi melalui Blackberry, tidak hanya ke saya tapi juga ke yang lain,” katanya.

Meski membenarkan bahwa ketua KPK telah berbuat sesuatu yang telah melanggat etika, Hasto meminta masyarakat untuk tetap percaya kepada KPK karena orang-orang yang tak beretika di KPK hanyalah oknum saja, bukan anggota KPK seluruhnya. “Di tingkat prakteknya ada oknum dari institusi tersebut yang belum dapat melepaskan diri dengan kepentingan politik di luarnya,” pungkasnya.

Related Posts.

Leave a Reply