MEDIAJURNAL » Sosial » Buku Al Quran Bohong dan Nabi Muhammad Beristri 20 Hebohkan Aceh

Buku Al Quran Bohong dan Nabi Muhammad Beristri 20 Hebohkan Aceh

Written by on |
Buku Pemurtadan

Buku Pemurtadan / merdeka.com

Empat buah buku yang berisi hujatan terhadap agama Islam dan Nabi Muhammad gemparkan warga Aceh. Empat buku yang diduga untuk memurtadkan warga muslim Aceh itu beredar di Pidie Jaya, Aceh Jaya, Aceh Barat, Aceh Besar dan Bireuen.

H Faisal Ali, Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menemukan empat buah buku yang diduga untuk memurtadkan warga muslim aceh itu. “Buku yang beredar pada masyarakat itu beragam, ada 4 jenis. Intinya dalam buku itu adalah upaya pemurtadan siapa yang membacanya,” kata H Faisal Ali di kantor MPU Aceh, Rabu (3/12/2014).

Dari penyelidikan MPU Aceh, buku-buku tersebut disebarkan dengan beragam cara, di Kabupaten Aceh Besat dan Aceh Jaya buku-buku tersebut disebarkan dengan cara dititipkan di warung-warung makan. Semantara itu, di Pidie buku-buku itu dititipkan di sebuah pesantren. “Kalau di Pidie Jaya itu justru dititipkan di sebuah pesantren yang ada di Pidie Jaya,” terangnya, dilansir merdeka.com, Kamis (4/12/2014).

Advertisements

Dalam buku tersebut disebutkan bahwa kitab suci Al Quran isinya penuh kebohongan dan juga Nabi Muhammad mempunyai istri hingga 20 wanita. H Faisal Ali mengatakan, kasus-kasus serupa sebelumnya pernah terjadi namun pada kasus terakhir ini terlihat terstruktur, sistematis dan masif.

“Ini semua upaya menyudutkan Islam dan modus operandinya setiap beredar buku penangkalan aqidah sama. Namun sekarang ini intensitasnya yang semakin masif terjadi di Aceh,” pungkasnya.

Nur Zahri, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA meminta peran serta Pemerintah Provinsi Aceh dan juga Gubernur Aceh dalam menangani kasus peredaran buku pemurtadan tersebut. Nur Zahri khawatir, beredarnya buku tersebut bisa memicu terjadinya konflik lagi di Aceh.

“Pemerintah Aceh yaitu Gubernur Aceh harus mengambil langkah pro aktif, jangan sampai ada pembiaran terus terjadi, karena ditakutkan nanti ada konflik baru terjadi di Aceh,” kata Zahri.

Nur Zahri juga mengaku heran dengan beredarnya buku-buku pemurtadan tersebut. Menurutnya, hal itu aneh karena bisa lolos dari intelijen polisi. Nur Zahri menilai intel polisi di Aceh tidak melaksanakan tugas sebagaimana mestinya.

“Pihak kepolisian harus bekerja sesuai dengan mekanisme hukum yang berlaku, kasus seperti ini seharusnya polisi bisa bertindak pencegahan dengan memfungsikan fungsi intelijen, pihak intelijen pasti tau, gak mungkin mereka tidak tau,” pungkasnya.

Related Posts.

Leave a Reply