MEDIAJURNAL » Sosial » Presiden Jokowi Bisa Ditembak Mati, Bila Masih Sepelekan Paspampres

Presiden Jokowi Bisa Ditembak Mati, Bila Masih Sepelekan Paspampres

Written by on |
Presiden Jokowi

Presiden Jokowi / JIBI Foto

Setelah Joko Widodo resmi ditetapkan oleh KPU dan MK sebagai presiden terpilih Indonesia periode 2014, pengamanan terhadap Jokowi menjadi tanggung jawab Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).

Jokowi dikabarkan enggan untuk mamatuhi standar keamanan yang akan dilakukan oleh paspampres dengan alasan ingin lebih dekat dengan rakyat. Hal yang dilakukan Jokowi tersebut mendapat tanggapan beragam darai berbagai macam kalangan, salah satunya dari Pengamat intelijen Wawan Hari Purwanto.

Wawan Hari Purwanto menyatakan bahwa boleh saja Jokowi tetap ingin lebih dekat atau merakyat dengan rakyatnya, namun sterilisasi juga tetap harus dilakukan Paspampres. “meskipun mau blusukan monggo, tapi harus ada pengamanan ring 1, ring 2, ring 3, kalau ada yang terobos itu di ring 3 saja, tidak boleh ada pembiaran atau menjadi melanggar SOP, nanti malah berbahaya
,” ujar Hari Purwanto dilansir dari merdeka.com, SeninĀ (25/8/2014).

Advertisements

Wawan mengaku tak ingin kejadian tragis yang menimpa Perdana Menteri Swedia Olof Palme tejadi juga pada Jokowi, diketahui Olof Palme yang gaya kepemimpinannya merakyat mirip dengan Jokowi meninggal ditembak orang tak dikenal saat pulang dari menonton bioskop pada 28 Februari 1986.

“Kita harus belajar, dulu ada Perdana Menteri Swedia Olof Palme, dia sangat egaliter sekali, pulang jalan kaki, suatu saat dipelajari orang, setelah pulang nonton bioskop dia ditembak orang,” terangnya.

Menurut Wawan, meskipun indonesia dalam beberapa tahun belakangan ini cenderung kondusif namun jangan lupakan sejarah bahwa di negeri ini pernah terjadi upaya-upaya yang dilakukan oleh orang-orang tidak bertanggung jawab untuk membunuh presiden.

” 2004 lalu ada latihan yang sasaran nembaknya Pak SBY, ada upaya pengeboman gubernur Sulawesi Selatan saat kampanye. zaman Soekarno juga lebih banyak penyerangan hanya memang tidak dipublish. Sebetulnya zaman Pak Harto juga ada, cuma memang tidak dipublish,” terang dia.

Wawan menegaskan bahwa Paspampres pada dasarnya bertujuan sangat baik, yaitu untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi pada seorang presiden. “Ini ya intinya hanya warning, karena kita kan ingin pencegahan dari pada penindakan, ini lebih baik mencegah tanpa mengurangi spirit untuk dekat dengan rakyat,” pungkasnya.

Berikan Komentar