MEDIAJURNAL » Bisnis » Pilot Ini Bilang Kerja di Lion Air Itu Tidak Seenak Kerja di Merpati Airline

Pilot Ini Bilang Kerja di Lion Air Itu Tidak Seenak Kerja di Merpati Airline

Written by on |
Pesawat Lion Air

Pesawat Lion Air / Reska K. Nistanto

Dalam pandangan orang awam, bekerja sebagai pilot itu sangat nyaman dan menjanjikan. Tapi apakah pada praktiknya jadi pilot itu seperti yang ada dalam bayangan orang awam? Seorang pilot Lion Air, Kapten Olive, memberikan gambaran atau pengalamannnya bahwa maskapai yang dipilih untuk bekerja sangat menentukan kesejahteraan seorang pilot.

Sebagai pilot yang pernah bekerja di Merpati Airline yang merupakan maskapai badan usaha milik negara (BUMN), Kapten Olive meyakinkan bahwa bekerja sebagai pilot di maskapai BUMN lebih enak dibanding bekerja di maskapai swasta seperti Lion Air, tempat kerjanya sekarang.

Menurut Olive, komunikasi antara pegawai dan perusahaandi maskapai BUMN lebih baik bila dibanding maskapai swasta. Jajaran direksi maskapai BUMN, menurut Olive, lebih bijaksana, yaitu mau mendengar setiap masukan atau keluhan dari pada pilot.

Advertisements

“Di BUMN (maskapai penerbangan) direksinya lebih bijaksana karena suara kami masih mereka dengarkan walaupun tidak dipenuhi secara total. Jadi boleh dikatakan hanya sekedar hiburan,” kata Kapten Olive saat ditemui di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jakarta, Selasa, 21 Oktober 2015.

Saat pindah dari Merpati Airline ke Lion Air, Olive sempat berharap kesejahteraannya sebagai pilot akan lebih baik. Namun yang dia harapkan itu tidak terjadi karena tempat kerjanya yang baru hanya berfikir bisnis, bukan kesejahteraan pilotnya. “Maskapai swasta hanya untungkan bisnis saja” ujarnya, dikutip dari Merdeka.com, Rabu, 21 Oktober 2015.

Kapten Olive sendiri saat ini sedang mengalami hari-hari yang buruk bersama Lion Air. Olive sedang digantung atau menjalani sanksi karena dinilai perusahaan telah lalai dengan menelantarkan penumpang pada penerbangan Jakarta – Jambi Desember 2014 silam.

“Saya dibilang dari Lion Air telah menelantarkan penumpang, saat itu Jakarta – Jambi pada bulan Desember 2014. Padahal, kondisi pesawat saat itu memang tidak bisa dipakai karena temperaturnya panas,. Saat itu, memang terjadi delay namun penumpang terangkut dengan memakai pesawat cadangan” jelasnya.

Kapten Olive merasa bingung dengan sanksi yang diberikan Lion Air kepada dirinya. Dia berkeyakinan apa yang dilakukanya setahun silam benar, yaitu mengutamakan keselamatan para penumpangnya. Pihak Lion Air, menurut Olive, selalu menghindar ketika dimintai kejelasan nasib dirinya yang sudah tidak digaji sejak Maret 2015.

“Saat itu saya hanya ingin mengutamakan keselamatan, malah sekarang saya statusnya tidak jelas, tidak diberikan jam terbang lalu tidak digaji sejak Maret dan fasilitas saya dicabut, statusnya menggantung dari Lion Air. Saya menunggu pihak Lion sampai saat ini mereka seakan menghindar,” pungkasnya.

Berikan Komentar