MEDIAJURNAL » Lifestyle » MUI Fatwakan Rokok Haram, NU: Rokok Itu Tidak Haram Hanya Mubah

MUI Fatwakan Rokok Haram, NU: Rokok Itu Tidak Haram Hanya Mubah

Written by on |
Merek-Merek Rokok

Merek-Merek Rokok / bipromagazine.com

Lima tahun silam, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa tentang haramnya merokok di tempat umum atau ruang publik, dalam fatwa tahun 2009 itu juga disebutkan rokok haram untuk perempuan dan anak-anak.

Fatwa tersebut hingga gini menuai pro dan kontra dari umat muslim tanah air, baru-baru ini Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengungkapkan ketidaksepakatannya dengan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengharamkan rokok.

Kiai Arwani Faisal, staf Dewan Halal PBNU mengatakan, rokok bukanlah sesuatu yang haram melainkan mubah. Faisal menilai fatwa MUI yang mengharamkan rokok sangat tendensius dan bisa mematikan industri tembakau atau rokok di tanah air.

Advertisements

“Rokok itu mubah, sampai kiamat ulama NU tidak akan mengharamkan rokok. Fatwa rokok haram yang dikeluarkan oleh MUI dan didukung kelompok anti tembakau itu penuh tendensius, mereka ingin mematikan keberlangsungan hidup petani tembakau kita,” tegas Kiai Arwani Faisal melalui pernyataannya, Selasa (14/10/2014).

Faisal mengatakan, sikap kiai NU itu bukan berarti NU tidak menerima data kesehatan dari Kementerian Kesehatan, bukti bahwa NU menerima data kesehatan adalah dengan penetapan hukum makruh bagi rokok oleh NU beberapa waktu lalu, meskipun bila mengesampingkan data kesehatan, NU masih berpandangan rokok adalah hal yang mubah atau bahkan wajib.

“Kiai tidak berarti tidak menerima data kesehatan. Rokok makruh karena menerima data kesehatan. Kalau tidak menerima, kiai akan menetapkan hukum rokok wajib. Itu justru karena ngerti itu bahaya,” terangnya, dilansir dari republika.co.id, Rabu (15/10/2014).

Menurut Faisal, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) telah membahas perihal halal-haram-nya rokok sejak tahun 2010 silam, tepatnya pada Muktamar NU ke 32 di Makassar. Dalam Muktamar saat itu rokok diputuskan tidak haram. “Harus dilihat kadarnya. Kalau mafsadatnya (kerugian) besar hukumnya haram. Rokok kan sekali hisap tidak langsung pingsan,” pungkasnya.

RALAT BERITA: Melalui surat elektronik (email) kepada admin blog Media Jurnal, Arwani Faisal membantah pernah memberikan pernyataan­-pernyataan yang termuat dalam berita di atas, kepada siapa pun dan kapan pun. Dalam email yang kami terima pada Sabtu (22/11/2014), menyebutkan terutama ada lima poin jawaban:

1. Bahwa Arwani Faisal adalah Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU. Bukan staf Dewan Halal PBNU.

2. Bahwa Arwani Faisal tidak pernah menolak, tetapi sepaham terhadap fatwa MUI yang mengharamkan merokok dalam kondisi tertentu, seperti di tempat umum, oleh anak­-anak, dan wanita hamil. Dan tidak pernah menduga negatif, tetapi yakin, fatwa tersebut tidak ada motif untuk membunuh kelangsungan petani tembakau.

3. Bahwa Arwani Faisal tidak pernah membahas hukum merokok kecuali menguraikan tiga klasifikasi hukum; haram secara khusus, makruh secara umum, dan mubah jika dilakukan sesekali dan sekiranya mafsadah (bahaya) yang ditimbulkannya tidak seberapa, dan kemudian mudah luntur.

4. Bahwa Arwani Faisal tidak pernah menyebutkan suatu hukum dengan kata “sampai kiamat”, dan kalau mungkin pernah terjadi tentu dalam konteks humor.

5. Bahwa Arwani Faisal tidak pernah mengatakan ada pembahasan rokok pada Muktamar NU ke​­32 th. 2010 di Makassar karena faktanya tidak dibahas. 

Berikan Komentar