MEDIAJURNAL » Sosial » Larang Muslim Syiah di Bogor Rayakan Hari Asyura, Bima Arya Disomasi

Larang Muslim Syiah di Bogor Rayakan Hari Asyura, Bima Arya Disomasi

Written by on |
Perayaan Asyura

Perayaan Asyura / Ozan Kose (AFP)

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto disomasi sejumlah warga Bogor yang bernaung dalam Yayasan Satu Keadilan. Bima disomasi terkait surat edaran larangan bagi warga Kota Bogor untuk merayakan salah satu hari raya umat muslim Syiah, Hari Asyura.

Sugeng Teguh Santoso, ketua Yayasan Satu Keadilan, menilai Bima telah melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) dan Undang-Undang Dasar 1945. “Kami bermaksud meminta Wali Kota untuk mencabut kembali surat edaran tersebut,” ujar Sugeng, dikutip dari Tempo.co, Kamis, 19 November 2015.

Surat edaran tersebut, menurut Sugeng, menimbulkan polemik sehingga pemerintah pusat harus memberikan peringatan kepada Bima. “Ditetapkannya Kota Bogor sebagai kota yang paling intoleran menjadi peringatan buat pemerintah pusat yang harus memberikan peringatan dan pengawasan terhadap Wali Kota Bima Arya,” tegasnya.

Advertisements

Sugeng berharap, pemerintah pusat segera mengambil tindakan tegas dengan mencabut Surat Edaran Nomor: 300/321-Kesbangpol tentang larangan perayaan Asyura di Kota Bogor. Selain itu, dia juga meminta masalah GKI Yasmin yang berlarut-larut juga bisa segera diselesaikan pemerintah.

“Perhatian serius pemerintah pusat terhadap Wali Kota Bogor ini harus dimulai dengan perintah membatalkan surat edaran larangan Asyyura dan penyelesian masalah GKI Yasmin secara menyeluruh,” lanjutnya.

lebih jauh, Sugeng menilai intoleransi yang terjadi di Kota Bogor juga merupakan cerminan nyata terjadinya intoleransi di Indonesia. “Presiden Jokowi dalam waktu-waktu tertentu berkantor di Bogor, sehingga bisa dikatakan Indonesia darurat toleransi beragama dan berkeyakinan,” pungkasnya.

Sementara itu, Ade Syarif, Sekretaris Daerah Kota Bogor, menilai tuduhan Yayasan Satu Keadilan yang menyebut Kota Bogor sebagai kota yang tidak toleran tidak berdasar. Menurut Ade, Yayasan Satu Keadilan tidak cermat dalam melihat latar belakang munculnya surat edaran larangan perayaan Asyura di Kota Bogor.

“Apalagi mereka (Setara Institute) tidak memahami latar belakang masalah terkait dikeluarkannya surat edaran larangan Assyura itu,” kata Ade Syarif.

Berikan Komentar