MEDIAJURNAL » Sosial » Andri Anto Dark, Si Penghina Samarinda Dibebaskan dari Sel Tahanan

Andri Anto Dark, Si Penghina Samarinda Dibebaskan dari Sel Tahanan

Written by on |
Andri Anto Dark dan Polisi

Andri Anto Dark dan Polisi / Tribun News

Warga Samarinda beberapa minggu ini dibuat geram oleh Andri Rudiyanto, 30 tahun, seorang pemuda asal jakarta yang merantau di Samarinda. Lewat akun media sosial Facebooknya, ‘Andri Anto Dark’, Andri beberapa kali menghina warga Samarinda. Dia pun akhirnya menjadi DPO warga samarinda hingga pada Selasa, 8 September 2015 lalu warga berhasil menemukannya.

Andri, yang bekerja sebagai karyawan pencucian mobil itu disatroni puluhan warga Samarinda yang menuntut dia untuk membuat permintaan maaf terhadap seluruh warga Samarinda. Saat membuat pernyataan minta maaf, beberapa warga yang geram sempat melayangkan beberapa pukulan ke wajah Andri hingga alis kanannya robek.

Polisi dari Polsekta Samarinda Utara berhasil mengamankan Andri agar terhindar dari amukan beberapa warga yang makin tak terkendali. AKP Erick Budi S, Kapolsekta Samarinda Utara, mengatakan bahwa sehari setelah diamankan di sel Andri sudah bisa menghirup udara bebas lagi karena tidak ada laporan resmi dari warga Samarinda.

Advertisements

“Kami bebaskan dia karena hingga saat ini tidak ada yang melapor ke Polsek. Jika ada yang membuat laporan, tentu akan kami proses sesuai dengan prosedur,” ujar AKP Erick Budi S, dikutip dari Tribun News, Kamis, 10 September 2015.

Sementara itu, Andri mengaku tidak akan tinggal di Samarinda lagi selepas dia keluar dari sel. Andri memilih untuk pulang dulu ke kampung halamannya di jakarta. “Untuk apa lagi saya di Samarinda kalau warga sini tidak menginginkan saya tinggal. Dari pada saya celaka, saya pilih pulang ke Jakarta,” ungkap Andri.

Setelah sampai di Jakarta, Andri berniat untuk langsung berangkat ke bandung, mengadu nasib di sana. Dia berharap kejadian serupa yang terjadi di Samarinda tidak akan dia alami di bandung. “Sampai di Jakarta, saya akan langsung ke Bandung, semoga bisa bertahan di sana. Saya berharap kejadian di Samarinda tidak terulang di Bandung,” lanjutnya.

Andri bercerita bahwa awalanya dia merantau ke Samarinda bermodal ijasah S1 dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Sayang Ijazah tersebut hanya bisa mengantarkannya menjadi pencuci mobil. “Tidak menyangka akan seperti ini, padahal saya ingin kembali ke Jakarta dengan sukses. Selama bekerja di Samarinda, penghasilan saya cukup untuk kebutuhan sehari-hari,” kata Andri.

Terkait postingan kontroversialnya di facebook, Andri menilai itu hanya luapan emosianal sesaatnya saja, sehingga dia melihat reaksi warga Samarinda sangat berlebihan. “Saya anggap status saya itu hanya luapan emosi saya saja, karena saya selalu diremehkan oleh orang lain. Dan, saya rasa tidak perlu ditanggapi secara berlebihan,” pungkasnya.

Berikan Komentar